Terdesak Hebel dan Harga Murah, Pengrajin Bata Merah di Indramayu Bertahan di Tengah Sulitnya Pasar
Terdesak Hebel dan Harga Murah, Pengrajin Bata Merah di Indramayu Bertahan di Tengah Sulitnya Pasar
Di tengah pesatnya pembangunan dan modernisasi bahan konstruksi, nasib para pengrajin bata merah tradisional kini semakin terjepit. Kehadiran bata ringan atau hebel perlahan menggeser posisi bata merah yang selama puluhan tahun menjadi bahan bangunan andalan masyarakat. Kondisi tersebut dirasakan langsung para pengrajin bata merah di Kabupaten Indramayu. Selain permintaan yang terus menurun, mereka juga harus menghadapi harga jual yang dinilai tidak lagi sebanding dengan biaya produksi yang terus meningkat.
Mulai dari proses pengambilan tanah liat, pencetakan, penjemuran, hingga pembakaran, seluruh tahapan pembuatan bata merah membutuhkan tenaga besar, waktu panjang, dan biaya yang tidak sedikit. Terlebih proses pembakaran memerlukan kayu bakar dalam jumlah banyak agar menghasilkan kualitas bata yang baik.
Namun di tengah beratnya proses produksi, harga jual bata merah justru terus tertekan di pasaran. Salah seorang pengrajin bata merah asal Blok Carik, Desa Haurgeulis, Kecamatan Haurgeulis, Rastiman (68), mengaku kondisi saat ini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Menurutnya, usaha bata merah dulu mampu menjadi sumber penghidupan yang cukup bagi keluarga. “Sekarang yang penting modal kembali saja sudah syukur, karena untungnya sedikit sekali,” ujar Rastiman, Sabtu 23 Mei 2026. Ia mengatakan, saat ini harga bata merah berada di kisaran Rp800 per buah. Meski persaingan dengan hebel semakin kuat, dirinya bersyukur bata merah masih memiliki peminat.
“Saat ini harga bata merah Rp800 satuannya. Walaupun tergeser hebel, Alhamdulillah peminat bata merah masih ada,” katanya. Menurut para pengrajin, salah satu penyebab utama menurunnya permintaan bata merah adalah perubahan tren pembangunan yang kini lebih banyak menggunakan hebel. Bata ringan dinilai lebih praktis karena ukuran lebih besar namun bobotnya lebih ringan sehingga mempercepat proses pemasangan. Penggunaan hebel juga dianggap mampu menekan biaya tenaga kerja karena waktu pengerjaan bangunan menjadi lebih singkat. Selain itu, material tersebut dinilai memiliki kemampuan meredam panas dan suara yang cukup baik sehingga banyak digunakan pada pembangunan perumahan modern. Akibat kondisi tersebut, para pengrajin bata merah terpaksa menyesuaikan harga agar produknya tetap laku di pasaran. Namun langkah itu justru membuat keuntungan yang diperoleh semakin kecil.
Di sisi lain, biaya produksi terus mengalami kenaikan, terutama harga kayu bakar dan upah tenaga kerja. Situasi ini membuat banyak pengrajin kesulitan bertahan, terlebih sebagian besar usaha bata merah masih dikelola secara tradisional dan turun-temurun. Bagi para pengrajin senior, kondisi ini bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut kelangsungan warisan keterampilan keluarga yang telah dijalani selama puluhan tahun. Meski menghadapi banyak tantangan, para pengrajin tetap yakin bata merah masih memiliki keunggulan tersendiri dibanding hebel. Mereka menilai bata merah lebih kuat dalam menahan beban, memiliki daya tahan jangka panjang, serta mampu menyerap kelembapan sehingga membuat ruangan terasa lebih sejuk.
Para pengrajin berharap adanya perhatian dari pemerintah maupun pihak terkait untuk membantu keberlangsungan usaha mereka. Dukungan tersebut diharapkan bisa berupa bantuan pemasaran, pelatihan teknologi produksi, hingga kemudahan akses bahan baku dan permodalan.
Mereka berharap usaha bata merah tradisional tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Sebab bagi mereka, bata merah bukan sekadar material bangunan, melainkan bagian dari keterampilan dan budaya kerja yang diwariskan dari generasi ke generasi.





