Puasa dan Kearifan Ekoteologi Agama-Agama, Vanessa: Menjaga Harmoni Manusia dan Alam

Puasa dan Kearifan Ekoteologi Agama-Agama, Vanessa: Menjaga Harmoni Manusia dan Alam


Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email Print
Puasa dan Kearifan Ekoteologi Agama-Agama, Vanessa: Menjaga Harmoni Manusia dan Alam

Signal.co.id – Puasa selama ini kerap dipahami sekadar sebagai ibadah menahan lapar dan dahaga. Namun dalam berbagai tradisi keagamaan, puasa memiliki makna yang jauh lebih luas. Selain menjadi sarana pendalaman spiritual, puasa juga mengajarkan manusia untuk menjaga keseimbangan hidup, termasuk hubungan yang harmonis dengan alam.

Hal tersebut disampaikan Vanessa Shania, S.H., M.Kn., Kepala Departemen Lintas Agama ALPENINDO (Alumni Penabur Indonesia) sekaligus Nahdliyin Tionghoa, dalam refleksinya mengenai keterkaitan puasa dengan kearifan ekoteologi dalam berbagai agama.

Menurut Vanessa, dalam kajian teologi modern dikenal istilah ekoteologi, yakni pandangan yang menempatkan alam sebagai bagian integral dari ciptaan Tuhan yang harus dijaga dan dirawat oleh manusia.

Dalam tradisi Islam misalnya, puasa Ramadan tidak hanya bertujuan menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga membentuk pribadi yang bertakwa. Puasa melatih manusia untuk hidup sederhana, mengendalikan konsumsi, serta menyadari tanggung jawab moralnya sebagai khalifah di bumi yang berkewajiban menjaga kelestarian alam.

Sementara itu, dalam tradisi Katolik dan Kristen, puasa dikenal secara khusus dalam masa Prapaskah. Praktik ini menjadi sarana pertobatan sekaligus refleksi untuk menjalani hidup yang lebih sederhana serta peduli terhadap sesama. Dalam pemikiran Gereja modern, gagasan ekologi integral juga menegaskan bahwa menjaga bumi merupakan bagian dari tanggung jawab iman.

Pandangan serupa juga ditemukan dalam agama-agama Timur. Dalam Hindu, praktik upavasa atau puasa dimaknai sebagai upaya penyucian diri sekaligus menjaga harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam semesta. Buddhisme menekankan pengendalian diri serta kesederhanaan hidup sebagai jalan untuk mengurangi penderitaan semua makhluk hidup.

Sedangkan dalam tradisi Konghucu, puasa atau penyucian diri sebelum menjalankan ritual dipandang sebagai latihan moral untuk mencapai harmoni antara manusia, langit, dan alam.

“Dari berbagai tradisi tersebut terlihat bahwa puasa memiliki pesan universal, yakni menahan diri dari keserakahan dan mengembalikan keseimbangan hidup,” ujar Vanessa.

Ia menilai, di tengah krisis ekologis yang dihadapi dunia saat ini, nilai-nilai spiritual seperti puasa dapat menjadi pengingat bagi umat manusia bahwa bumi bukan sekadar sumber eksploitasi, melainkan rumah bersama yang harus dijaga.

Sebagai seorang perempuan Tionghoa Katolik yang hidup di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk, Vanessa mengaku banyak belajar dari pengalaman dialog lintas iman, khususnya dengan teman-teman dari tradisi Nahdlatul Ulama.
Menurutnya, dialog antaragama sering kali menemukan titik temu pada nilai-nilai kemanusiaan, kesederhanaan hidup, serta kepedulian terhadap alam.

“Puasa dalam banyak agama dan sistem kepercayaan menjadi salah satu jalan spiritual untuk merawat kemanusiaan sekaligus menjaga bumi sebagai rumah bersama,” pungkasnya.

Share : Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email WhatsApp Print

Artikel Terkait

aksara
inquiry