Hangatnya Kebersamaan Warga Indramayu Racik Bubur Sura
Hangatnya Kebersamaan Warga Indramayu Racik Bubur Sura
Suasana hangat terasa di sebuah rumah warga di Desa Plumbon, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Kamis (25/6/2026). Aroma rempah yang menguar dari dapur, berpadu dengan kesibukan warga yang bergotong royong menyiapkan ratusan porsi bubur sura.
Sejak pagi, belasan warga tampak sibuk membagi tugas. Sebagian mengaduk bubur di dapur, sementara yang lain menyiapkan wadah dan membungkus bubur yang telah matang. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari tradisi tahunan masyarakat setempat dalam menyambut Tahun Baru Islam pada bulan Muharam.
Tradisi membuat bubur sura telah diwariskan secara turun-temurun dan hingga kini masih dijaga oleh warga. Tahun ini, ratusan porsi bubur kembali disiapkan untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar sebagai bentuk kebersamaan sekaligus ungkapan syukur.
Ketua RT 07 Desa Plumbon, Endrol mengatakan pelaksanaan tradisi ini berawal dari keinginan salah seorang warga untuk membuat bubur tersebut secara bersama-sama. Rumahnya pun dipilih sebagai lokasi kegiatan tahun ini.
“Warga yang mengusulkan agar pembuatannya dilakukan di rumah saya. Karena memang ini kegiatan bersama, tentu saya mendukung dan memfasilitasinya,” ujar Endrol kepada detikJabar, Kamis (25/6/2026).
Persiapan pembuatan bubur sura telah dilakukan sejak sehari sebelumnya. Warga terlebih dahulu meracik kuah berbumbu rempah sebelum melanjutkan proses memasak dan pengemasan pada hari pelaksanaan.
Menurut Endrol, semangat gotong royong menjadi nilai utama yang terus dipertahankan dalam tradisi ini. Warga tidak hanya menyumbangkan tenaga, tetapi juga ikut berpartisipasi melalui sumbangan bahan makanan maupun dana sesuai kemampuan masing-masing.
Beragam hasil bumi seperti beras, jagung, labu, dan bahan lainnya dikumpulkan untuk kemudian diolah menjadi bubur sura. Sebagai pelengkap, warga juga menyiapkan aneka lauk pendamping seperti ayam suwir dan telur dadar yang disajikan bersama kuah rempah khas
“Bahan yang digunakan biasanya berasal dari apa yang tersedia dan dibawa warga. Semua dikumpulkan lalu dimasak bersama,” katanya.
Bagi masyarakat Desa Plumbon, tradisi ini memiliki nilai yang lebih dalam dibanding sekadar kegiatan memasak bersama. Endrol mengaku telah mengenal tradisi bubur sura sejak masih kecil dan terus terlibat hingga sekarang.
Ia menuturkan, meskipun terdapat berbagai kepercayaan yang berkembang di masyarakat mengenai tradisi tersebut, warga memaknainya sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan Muharam sekaligus upaya menjaga warisan budaya leluhur agar tetap lestari.
Komitmen warga dalam merawat tradisi juga terlihat dari berbagai kegiatan budaya lainnya yang masih rutin dilaksanakan, seperti pembuatan kue apem dan kegiatan berbagi makanan pada momen-momen tertentu.
Salah seorang warga, Sareh (70), menilai bubur sura mengandung pesan tentang kebersamaan dan penyucian diri. Beragam bahan yang dilebur menjadi satu dalam bubur dianggap melambangkan persatuan berbagai unsur kehidupan manusia.
“Semua bahan menyatu menjadi satu bubur. Itu menjadi pengingat agar memasuki tahun baru dengan hati yang bersih dan niat yang baik,” ujarnya.
Ia menambahkan, berdasarkan tradisi yang diwariskan para orang tua terdahulu, pembuatan bubur sura lazim dilakukan pada rentang tanggal 1 hingga 10 Muharam.
Setelah seluruh proses memasak selesai, ratusan bungkus bubur sura terlebih dahulu didoakan bersama sebelum dibagikan kepada warga dari rumah ke rumah.
Di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat, tradisi bubur sura di Desa Plumbon menjadi bukti bahwa nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap warisan budaya masih memiliki tempat di hati masyarakat.
Semangkuk bubur yang dibagikan setiap Muharam tak hanya menghadirkan rasa, tetapi juga menjaga ikatan sosial dan memelihara jejak sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi.




