Warga Indramayu Lakukan Mandi Grujug di Sumur Pengantin 27 Februari 2026

Warga Indramayu Lakukan Mandi Grujug di Sumur Pengantin 27 Februari 2026


Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email Print
Warga Indramayu Lakukan Mandi Grujug di Sumur Pengantin 27 Februari 2026

Selepas salat Jumat, puluhan warga Desa Dermayu, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, berbondong-bondong mendatangi Masjid Pusaka Baiturrahman pada Jumat (27/2/2026). Mereka melaksanakan ritus mandi ‘grujug’ di sebuah sumur tua yang dikenal sebagai Sumur Pengantin. Tradisi ini telah diwariskan lintas generasi.

Sumur tersebut diyakini memiliki keberkahan dan airnya tak pernah kering, bahkan saat kemarau panjang. Jumat kali ini dianggap istimewa karena bertepatan dengan Kliwon, 9 Ramadan 1447 Hijriah, yang dianggap sebagai waktu mustajab untuk berdoa oleh sebagian warga.

Menurut Ketua Yayasan Indramayu Historia Indonesia, Nang Sadewo, tradisi mandi grujug lazim dilakukan setiap Jumat, terutama Jumat Kliwon, serta pada momen-momen tertentu seperti 1 Suro (1 Muharam). “Sumur ini dikenal sebagai Sumur Masjid Pusaka atau Sumur Pengantin. Setiap hari Jumat, Jumat Kliwon, dan momen tertentu seperti 1 Suro, warga berbondong-bondong datang,” kata Sadewo.

Sadewo menambahkan bahwa mayoritas pengunjung adalah ibu-ibu, anak-anak, serta lansia. Mereka datang dengan harapan yang beragam, seperti terhindar dari penyakit, segera diberi kesembuhan, lekas berjalan, lancar berbicara, atau memiliki nafsu makan yang baik.

“Ini adalah kekayaan ritus masyarakat muslim di pesisir yang menggabungkan tradisi lokal dengan nilai-nilai Islam,” jelas Sadewo.

Masjid Pusaka Dermayu diperkirakan berdiri sekitar tahun 1510, sedangkan sumurnya diyakini sudah ada sejak 1470-an. Keberadaan sumur yang lebih tua dari bangunan masjid itu menambah aura historis sekaligus spiritual di mata masyarakat.

Sadewo menambahkan, “Yang istimewa, airnya tidak pernah asat (kering), dan musim hujan pun kemarau tidak pernah meluap, segitu saja. Ini menjadi simbol bahwa Islam adalah agama rahmatan lil’alamin.”

Tradisi mandi grujug disebut-sebut telah berlangsung sejak masa penyebaran Islam oleh para wali di tanah Jawa. Bagi warga, tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan naluri spiritual yang tumbuh alami. “Ini naluri masyarakat. Mereka datang tanpa diundang, karena percaya akan keberkahannya,” ujar Sadewo.

Arini (43), salah seorang warga, mengaku sudah sering datang pada Jumat Kliwon maupun 1 Suro. “Lewat perantara air di Sumur Pengantin, saya berharap keberkahan hidup, keselamatan, dan sehat wal afiat,” tuturnya

Hal serupa disampaikan Kurni’ah (51), yang membawa dua galon untuk diisi air sumur tersebut. “Nanti airnya saya bawa pulang oleh suami saya, untuk minum dan keperluan keluarga,” katanya.

Puluhan warga lainnya, didominasi perempuan dan anak-anak, mengharapkan hal yang sama: keberkahan, keselamatan, dan kesehatan. Mereka larut dalam sukacita mandi grujug sembari bergantian menimba air dan berbagi tempat.

Share : Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email WhatsApp Print

Artikel Terkait

aksara
inquiry