Yati Bertahan demi Menjaga Senyuman Anak Cerebral Palsy

Yati Bertahan demi Menjaga Senyuman Anak Cerebral Palsy


Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email Print
Yati Bertahan demi Menjaga Senyuman Anak Cerebral Palsy

Pagi ini (23/6/2026) angin laut berembus pelan di pesisir Desa Karangsong, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu. Sejumlah nelayan tampak sibuk memperbaiki jaring sebelum kembali melaut. Aktivitas mereka berjalan seperti biasa, namun di sebuah rumah sederhana tak jauh dari pantai, ada kisah perjuangan yang berlangsung setiap hari tanpa banyak diketahui orang.
Di rumah itulah Yati (29) menghabiskan sebagian besar waktunya merawat sang putri, Novita Putri, yang telah 11 tahun hidup dengan cerebral palsy atau gangguan perkembangan otak. Kondisi itu memengaruhi kemampuan gerak dan koordinasi tubuh bocah tersebut.

Setiap pagi, Yati memulai hari dengan rutinitas yang sama. Ia memandikan Novita, menyuapinya makan, mengganti pakaian, hingga memastikan putrinya tetap nyaman di tempat tidur. Semua dilakukan sendiri dengan penuh kesabaran.

Tak ada hari libur bagi Yati. Tak ada pula waktu untuk mengeluh panjang. Sebab baginya, Novita adalah alasan untuk terus bertahan.

“Yang bikin saya tegar itu senyum anak-anak, Mas. Kalau lihat mereka senyum, rasanya semua beban jadi berkurang,” ucapnya lirih, saat ditemui di rumahnya yang sederhana, Selasa (23/6/2026).

Kalimat sederhana itu menjadi gambaran betapa besar kasih seorang ibu kepada anaknya.

Padahal, perjalanan hidup Yati tidaklah mudah. Ia masih mengingat bagaimana Novita lahir dalam keadaan sehat seperti bayi pada umumnya. Namun ketika berusia sekitar delapan bulan, perkembangan putrinya mulai berbeda.

Novita mengalami keterlambatan tumbuh kembang. Ia kesulitan berbicara, tidak mampu berjalan, dan keseimbangan ototnya semakin melemah. Kondisinya terus berlanjut hingga kini, membuat Novita hanya bisa terbaring di tempat tidur.

Berbagai cara telah dilakukan. Yati berkali-kali membawa anaknya berobat ke rumah sakit dan memeriksakannya ke dokter. Namun hingga saat ini belum ada perubahan berarti yang dapat mengembalikan kondisi Novita.

Cobaan hidup Yati bertambah berat ketika suaminya meninggal dunia sekitar empat bulan lalu. Kehilangan pasangan hidup membuatnya harus memikul dua beban sekaligus: menjadi ibu sekaligus tulang punggung keluarga.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Yati membantu ibunya berjualan di warung kecil milik keluarga. Penghasilan yang diperoleh jauh dari kata cukup, tetapi itulah yang bisa dilakukan demi menyambung hidup.

Di balik perjuangan itu, ada sosok lain yang turut menopang keluarga mereka, yakni Kasmi, ibu Yati. Meski usianya tak lagi muda dan kondisi kesehatannya mulai menurun, Kasmi tetap berusaha membantu anak dan cucunya.

Beban yang ditanggung perempuan tua itu juga tidak ringan. Selain membantu Yati, beberapa cucunya yang telah kehilangan orang tua turut menjadi tanggungannya.

Keterbatasan ekonomi menjadi alasan utama Yati belum bisa memenuhi saran petugas kesehatan, yang memintanya membawa Novita menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Baginya, keputusan itu bukan perkara mudah.

“Kalau anak saya dirawat di rumah sakit, saya harus mendampinginya terus. Sementara yang mencari nafkah di rumah siapa? Saya sekarang jadi tulang punggung keluarga. Ibu sudah sering sakit-sakitan, bapak juga sudah tua,” katanya.

Meski demikian, Yati tidak kehilangan harapan. Ia berharap ada perhatian dari pemerintah maupun tenaga kesehatan yang dapat memberikan pendampingan langsung kepada putrinya.

Ia tidak meminta banyak. Hanya pemeriksaan kesehatan yang rutin dan bantuan yang dapat meringankan kebutuhan hidup Novita.

Di tengah segala keterbatasan yang mengelilinginya, Yati tetap memilih untuk bertahan. Setiap hari ia menjalani perannya sebagai ibu dengan penuh kesabaran, meski masa depan masih dipenuhi ketidakpastian.

Bagi sebagian orang, hidup mungkin diukur dari seberapa besar keberhasilan yang diraih. Namun bagi Yati, kebahagiaan memiliki makna yang jauh lebih sederhana.

Senyum Novita setiap hari adalah kekuatan yang membuatnya terus melangkah. Senyum itulah yang mengalahkan rasa lelah, menepis kesedihan, dan menjaga harapan tetap menyala di tengah kehidupan yang penuh ujian.

Sebab bagi seorang ibu, cinta sering kali tidak membutuhkan kata-kata. Ia hadir dalam ketegaran yang terus bertahan, bahkan ketika dunia terasa begitu berat untuk dijalani

Share : Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email WhatsApp Print

Artikel Terkait

aksara
inquiry